Definisi dan Gejala Korupsi

Definisi dan Gejala Korupsi

  1. Definisi Korupsi

Korupsi adalah tingkah laku individu yang menggunakan wewenang dan jabatan guna mengeruk keuntungan pribadi, merugikan kepentingan umum dan negara. Jadi korupsi merupakan gejala: salah pakai dan salah urus dari kekuasaan, demi keuntungan pribadi, salah urus terhadap sumber-sumber kekayaan negara dengan menggunakan wewenang dan kekuatan formal (misalnya dengan alasan hukum dan kekuatan senjata) untuk memperkaya diri.

Pengertian Korupsi (bahasa Latin: corruptio dari kata kerja corrumpere yang bermakna busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok). Secara harfiah, korupsi adalah perilaku pejabat publik, baik politikus politisi maupun pegawai negeri, yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka. Dalam arti yang luas, korupsi adalah penyalahgunaan jabatan resmi untuk keuntungan pribadi.

Dalam kamus Wesber, korupsi dirumuskan sebagai “an inducement by means of improper consideration to commit a violation of duty” (suatu bujukan dengan cara-cara yang tidak benar untuk melakukan suatau pelanggaran tugas). Sedangkan menurut Mohammad Zaid dalam Kamus Modern Bahasa Indonesia korupsi sebagai “pencurian kekayaan negara yang dilakukan oleh pegawai”.

Menurut Chazawi Adami, korupsi termasuk kedalam kejahatan terhadap harta benda, perbuatan yang dilarang menggelapkan, membiarkan diambil, membiarkan digelapkan, perbuatan membantu atau menolong dalam menggelapkan uang negara.

  1. Gejala Korupsi

Kartini Kartono menjelaskan perbuatan korupsi meliputi antara lain: Pengelapan, penyogokan, penyuapan, kecerobohan administrasi dengan intensi mencuri kekayaan negara, pemerasan, penggunaan kekuatan hukum dan atau kekuatan bersenjata untuk imbalan dan upah-upah materil, barter kekuasaan politik dengan sejumlah uang, penekanan kontrak-kontrak oleh kawan “sepermainan” untuk mendapatkan komisi besar bagi diri sendiri dan kelompok dalam; penjualan ”pengampunan” pada oknum-oknum yang melakukan tindak pidana agar tidak dituntut oleh yang berwajib dengan imbalan uang suap; eksploitasi dan pemerasan formal oleh pegawai dan pejabat resmi, dan lain-lain.

RECENT POSTS