Layakkah Mengeluarkan 30 Juta Rupiah untuk Samsung Galaxy Fold?

Layakkah Mengeluarkan 30 Juta Rupiah untuk Samsung Galaxy Fold?

 

Layakkah Mengeluarkan 30 Juta Rupiah untuk Samsung Galaxy Fold
Layakkah Mengeluarkan 30 Juta Rupiah untuk Samsung Galaxy Fold

Galaxy Fold adalah eksperimen sains,” ujar Dieter Bohn, Redaktur Eksekutif The Verge dalam ulasannya soal varian ponsel pintar termahal dari Samsung tersebut.

Sesuai namanya, Samsung Galaxy Fold merupakan ponsel yang dapat dilipat. Konsepnya adalah menggabungkan efisiensi ukuran yang dimiliki ponsel dengan maksimalnya layar yang dimiliki tablet. Saat Galaxy Fold dilipat, ukuran menjadi ponsel berukuran 4,6 inci. Sementara ketika dibuka, menjadi tablet berukuran 7,3 inci.

Untuk fitur demikian, Samsung mengandalkan layar infinity-flex display yang dirancang atas susunan AMOLED alias Active-Matrix Organic Light-Emitting Diode dengan ITO atau Indium Tin Oxide.

Sebagai eksperimen sains, Galaxy Fold merupakan produk yang sangat rentan. Pertama, lihatlah soal kualitas produk ini yang terbaca melalui lini masa perilisannya. Pengumuman kelahiran Fold terjadi awal tahun, yakni pada bulan Februari. Lalu, Samsung berniat menjualnya pada konsumen di bulan April. Namun, produk ini ternyata bermasalah, khususnya pada layar fleksibel yang mudah rusak.

Samsung akhirnya menarik Galaxy Fold yang telah beredar, khususnya dari para jurnalis yang hendak mengulas produk ini dan mengundurkan jadwal penjualan.

Pada bulan September di tahun yang sama, Samsung meluncurkan Galaxy Fold 1.5, produk yang telah dipermak dan siap dijual. Tiga bulan kemudian, produk ini masuk ke Indonesia. Konon, gelombang pertama penjualannya di Indonesia habis dalam waktu 31 menit.

Kerentanan berikutnya adalah tidak semua orang sanggup membeli Samsung Galaxy Fold meski produk tersebut ditujukan untuk semua orang.

Baca juga: Harga Rp30 Juta, Samsung Galaxy Fold Ludes 31 Menit Usai Pre Order

Mahal untuk Mayoritas
Samsung Galaxy Fold dijual dengan harga Rp30,8 juta. Angka tersebut jelas sulit membuat Samsung Fold menjadi produk umum yang terjangkau oleh banyak lapisan masyarakat. Upah rata-rata penduduk Indonesia akan sangat berat membeli produk ini.

Dilansir dari Katadata, upah rata-rata pekerja laki-laki tamatan perguruan tinggi di Indonesia hanya Rp5,49 juta.

Sementara upah rata-rata pekerja perempuan dengan strata pendidikan yang sama hanya Rp3,66 juta. Bila dikurangi cicilan rumah atau kendaraan, tagihan telepon, dan internet, serta biaya sosial lain, seri Galaxy M atau Galaxy A, dan mungkin seri Galaxy S dari Samsung, adalah yang paling mungkin dibeli mayoritas penduduk Indonesia, alih-alih Galaxy Fold.

Di luar teknologi canggih yang ditawarkan, harga jual Galaxy Fold terbilang “aneh”. Kini memang mudah menemukan ponsel berharga lebih dari Rp10 juta, tetapi data yang laporkan oleh Statista mengungkap hal lain: sejak 2011, rata-rata harga jual ponsel di seluruh dunia turun.

Pada 2011, rata-rata harga jual ponsel adalah $348,6. Lalu turun menjadi $332,5 di tahun berikutnya. Pada 2014, rata-ratanya harga jual ponsel ada di angka $291,1, lebih kecil dibandingkan rata-rata setahun sebelumnya, yakni $305,8. Tahun ini, rata-ratanya sebesar $214,7. Turun dari $229,4 di tahun 2018.

Secara umum, seperti dilaporkan The Verge, selain inflasi dan biaya perakitan ponsel yang tinggi, yang menjadi alasan munculnya ponsel dengan harga tinggi adalah karena kini orang-orang makin selektif membeli ponsel. Untuk mendongkrak keuntungan, pilihannya ada dua: jual lebih banyak ponsel atau jual ponsel berharga mahal dengan kuantitas terbatas.

Katakanlah Anda sanggup membeli Samsung Galaxy Fold. Mampu mengeluarkan uang sebesar Rp30,8 juta untuk membawa pulang ponsel ini. Namun, layakkah uang sebesar itu ditukar dengan sebuah ponsel?

Baca juga: Samsung Galaxy Fold Bisa Dipesan di Indonesia Mulai 13 Desember

Multitasking: Kelebihan yang Berlebihan
Samsung menyebut Galaxy Fold sebagai ponsel multitasking. Bagi jurnalis, kemampuan Fold jelas berguna. Dalam satu layar penuh, Google Docs, Chrome, dan WhatsApp dapat digunakan dalam waktu bersamaan untuk bekerja. Meski demikian, saya ragu ada jurnalis di Indonesia yang sanggup atau mau membelinya.

Multitasking, atau dalam kerangka pikir Samsung adalah membuka banyak aplikasi dalam satu waktu dan satu layar,

memang terasa mengasyikan. Namun, sebagaimana diwartakan The New York Times, multitasking merupakan fitur yang terlalu dilebih-lebihkan, dan manfaatnya jauh dari kebenaran.

Melakukan berbagai hal dalam satu waktu memang terlihat produktif, tetapi tidak efisien, bahkan sangat mungkin terjadi kekeliruan.

“Otak manusia memiliki keterbatasan pemrosesan kognitif, kemampuan ingatan dalam memori dalam satu waktu” tulis Phyllis Korkki pada The Times.

“Ketika multitasking dilakukan, otak akan berpikir bahwa ia sanggup melakukannya, tetapi kenyataannya sangat sulit. Otak perlu bekerja ekstra,” imbuhnya.

Earl K. Miller, profesor neuroscience yang dirujuk Korkki, menegaskan bahwa multitasking bukanlah sifat alamiah manusia. Ketika, katakanlah, melalui Galaxy Fold seseorang berbalas pesan via WhatsApp sambil menjelajah dunia web dengan Chrome, dan melihat statistik perdagangan di Google Sheets secara bersamaan, otak akan dipaksa bekerja keras.

Tatkala mata menoleh dari Chrome ke WhatsApp, otak dipaksa mengingat di posisi mana percakapan terakhir terjadi. Dan ketika mata menoleh lagi ke Google Sheet, hal yang sama dilakukan otak. Di satu titik, jaringan neural di otak lelah. Error atau kesalahan sangat mungkin terjadi.

“Manusia akan bekerja lebih efisien jika mereka melakukan monotask,” tegas Dr. Miller.

Artinya, jika Anda berniat membeli Galaxy Fold, belilah dengan maksud untuk menghargai mahakarya teknologi, sebagai eksperimen sains. Bukan untuk berbisnis, yang masih sangat baik dilayani laptop atau desktop. Pun jika ingin bekerja secara mobile, seri Galaxy Note atau Galaxy S dari Samsung telah lebih dari cukup.

Sumber:

https://student.blog.dinus.ac.id/handay/seva-mobil-bekas/