Soal permen karet

Table of Contents

Soal permen karet

Soal permen karet

Malam jam 12.00 lebih, akhirnya aku, Maria (teman Afrikaku) dan Alex (suaminya) berdiri ditiup angin dingin malam di stasiun Schondorf. Sedang apa kita disana ? Aku sedang menunggu datangnya kereta yang bisa membawaku kembali ke Stuttgart. Hanya ada beberapa orang di stasiun terbuka itu, maklum sudah tengah malam. Dengan langkah yang dipercepat kita setengah jalan dan setengah lari. Kita takut ketinggalan kereta, kalau saja kereta sudah lewat, berarti malam itu aku harus menginap di Schondorf (= besok harus bangun pagi-pagi, karena 1 jam perjalanan balik ke kota).

Tapi rupanya kereta belum lewat, sambil berlari kecil, aku berusaha mencapai mesin penjual tiket (automat). Pada saat yang bersamaan, jari jari kecilku mulai mengambil uang 2 euro untuk bayar 1 zone. Namun kemudian sesuatu menghalangiku, dan kemudian aku berseru kencang dan KESAL ….

“FXXXXXXXX !”.(antara perasaan marah, jijik, dan terburu-buru)

Ada bekas permen karet yang sengaja ditempelkan di lubang uang koin dan kartu.

“urggggggghhhh !”, KESAL banget, karena akhirnya aku harus menarik bekas permen karet itu dan kemudian dengan wajah yang tidak nyaman aku memasukkan uang koinku. Untung kemudian kereta baru datang 5 menit kemudian.

Akhirnya aku duduk di kereta dengan tenang, tapi masih juga teringat pada bekas permen karet yang mengesalkan. Ternyata tidak beda dengan layanan publik di negara sendiri.

Sumber : https://dunebuggyforsale.org/fb-ads-vs-ig-ads/