Soal Kantong Kresek

Table of Contents

Soal Kantong Kresek

Soal Kantong Kresek
Soal Kantong Kresek

Perjalanan budaya tidak akan menarik tanpa kisah kantong kresek. Kantong kresek yang kelihatannya sepele ternyata menjadi pelajaran dasar bagi aku, yang saat itu masih belum bisa menata kalimat cantik untuk berbelanja.

Teman-teman sekelas merasa sedih ketika aku memutuskan untuk terbang balik ke Indonesia, ternyata kehadiranku selama 2 bulan penuh membuat kesan yang cukup dalam. Mereka mengumpulkan uang, 1 Euro, per orang untuk membuat party kecil. Dengan semangat aku bilang, aku yang beli kue dan minumannya.

Dengan bantuan teman-teman Turki, akhirnya aku sampai di sebuah supermarket besar, “Aldi” namanya. Ketika keluar dari mobil, aku merasa aku dah “komplit”, alias, “sudah siap berbelanja”. Teman-teman bilang mereka menantiku di apartemen mereka yang jaraknya setengah kilo dari Aldi.

“6 biji Limun”, “2 Mineral watter”, “2 kue dessert keju”, “2 kue dessert cherry” dan “beberapa pack Jus” ada dalam keranjang belanjaanku.

Antrian yang sedikit memanjang, membuatku terus menerus berpikir, jika itu semua cukup untuk teman sekelas yang jumlahnya 20 orang. “cukup !”, benakku berbicara. Sementara antrian memendek, aku baru menyadari bahwa aku datang tanpa tas kresek atau backpack. “Astaga ! I’m in trouble!”, seru hatiku.

Persoalan datang setelah selesai membayar, karena kereta belanja harus dikembalikan, dan barang belanjaan harus dibawa ke rumah teman yang jaraknya setengah kilo, plus aku harus membawa semuanya melalui tangga. “I am in a big trouble !”, seru hatiku pahit.

Akhirnya, aku menumpuk kue-kue dessert itu plus jus dan minuman menjulang ke atas, sementara tangan kananku menenteng 6 biji botol minuman yang lain. Kemudian setiap 8 langkah, aku berhenti karena tanganku letih sekali. Keringat berceceran dan tentunya aku berhenti dan menukar beban di setiap belokan. Aku tidak pernah berhenti berseru betapa tololnya diriku. Setengah jam lebih, akhirnya aku sampai di apartemen teman Turkiku.

Tolol ? Mungkin “iya”, itulah pengalaman budaya berbelanja pertamaku di Jerman. Mulai saat itu, back pack adalah “shopping buddy”ku.

Sumber : https://dunebuggyforsale.org/faraway-apk/