Belajar Bersahabat dari Seorang Jurnalis

Belajar Bersahabat dari Seorang Jurnalis

Belajar Bersahabat dari Seorang Jurnalis

Ada sebuah perasaan gembira yang luar biasa ketika akhirnya aku mengenalnya lebih dari namanya, dan lebih gembira lagi ketika aku mengenalnya sebagai seorang jurnalis. Rasanya seperti bintang yang menemukan kumpulan bintang yang lain, dimana dia berasal. Mungkin karena merasa sama-sama dari background media, makanya kita bisa nyambung dan banyak berbicara.

Dari pertemuan di kelas, kemudian melampaui rutinitas setiap pagi dengan pertanyaan ritual, ‘Gutten morgen, so…… wie geht’s, Yola?’. rtemuan berikutnya dengan sedikit conversation , ketika pagi hari kita harus terburu-buru beli kopi. Seperti biasa satu gelas ‘coffee to go’, would be the starting of the day.

Entah dari mana kita memulainya, tiba-tiba kita berjalan bersama ditengah musim semi,dipinggir jalan sambil makan es krim, sedang membicarakan tentang kasus kontroversial LIDL (sebuah perusahaan supermarket di Jerman). Berbicaralah kita tentang artikel dan pandanganya tentang kasus itu, maklum karena sama-sama kritisnya, berbicaralah kita tentang film, novel, hidup dan juga cinta dan filosofi lainnya.

Aljamous, itulah namanya. Pemuda berasal dari Syria, Damascus ini datang ke Jerman setahun setengah yang lalu, dan kemudian semenjak sertahun belakangan ini ia duduk bersama di kelas belajar bahasa. 9 tahun ia malang melintang di Dubai, bekerja sebagai editor in chief untuk sebuat surat kabar. Profil yang cukup menarik, dan tentunya pengalamannya di media juga sudash cukup banyak. Media dan jurnalisme itu mungkin yang membawaku mengenal dia, sampai persahabatan datang pada kami.

Dalam beberapa kondisi kami berbagi ‚common problem’ yang sama bahwa kami memiliki pengalaman dan pendidikan, namun tanpa bahasa kami tidak bisa bekerja. Apalagi dalam dunia jurnalistik, seseorang diwajibkan untuk memiliki tingkat bahasa yang tinggi (‚hoch Deutsch’, kata orang). Untuk bekerja di media dan juga di pendidikan, tentunya kami membutuhkan bahasa jerman yang baik dan berstandart. Anyway, itu bukanlah sebuah masalah yang mengecilkan hati kami, kami melihatnya sebagai sebuah tantangan.

Dengan Aljamous, aku belajar lagi mengenai hidup dan kenyataan bagaimana orang yang lebih tidak mampu dari kami berjuang utnuk hidup. Tak hanya perihal kehidupan dan keindahan sastra, tetapi juga belajar politik. Aku yakin persahabatan ini masih terus berjalan dan saat ini kami belajar menjadi sahabat. Saat ini ‚sahabat’ menjadi kata yang sangat penting buatku, karena aku hidup di belantara kota yang serba personifikasi dan cuek.