Perkembangan MDGs di Sumatera

Perkembangan MDGs di Sumatera

Perkembangan MDGs di Sumatera

Pencapaian target menanggulangi kemiskinan di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam cukup baik ditinjau dari kecenderungan persentase penduduk miskinnya (Po). Po Nanggroe Aceh Darussalam pada tahun 1993 mencapai 13,5 persen atau 496.700 jiwa. Persentase ini berada di bawah Po nasional 13,7 persen dan juga berada di bawah rata-rata provinsi 14,7 persen. Penduduk miskin Nanggroe Aceh Darussalam tahun 2000 ternyata bertambah banyak atau meningkat persentasenya menjadi 29,8 persen. Po tahun 2006 menurun menjadi 28,7 persen. Situasi konflik dan ekonomi yang berkepanjangan sejak tahun 1990-an diduga menjadi penyebab meningkatnya kemiskinan.

Kinerja target pengurangan kelaparan dapat dilihat dari indikator balita kurang gizi. Balita kurang gizi di Nanggroe Aceh Darussalam pada tahun 1989 mencapai 48,4 persen atau tertinggi kedua di Indonesia. Kejadian kurang gizi menurun terus dari tahun 1989 sampai tahun 2000 menjadi masing-masing 39,3 persen dan 38,6 persen.

APM SD/MI sebagai indikator pencapaian target pendidikan dasar untuk semua di Nanggroe Aceh Darussalam menunjukkan perkembangan yang baik. APM SD/MI tahun 1992 termasuk rendah meskipun di atas angka nasional (88,7 persen) maupun di atas rata-rata provinsi (87,2 persen). Kualitas pelayanan pendidikan yang membaik membuat semakin bertambahnya partisipasi sekolah pendidikan dasar yang ditandai meningkatnya APM SD/MI tahun 2006 menjadi 95,5 persen.

Keadilan gender di bidang pendidikan, sebagai bagian dari upaya mewujudkan tujuan ketiga mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan menunjukkan kecenderungan menurun. Rasio APM murid perempuan dibanding laki-laki (P/L) SD/MI tahun 1992 telah mencapai 99,9 namun menurun menjadi 96,4 pada tahun 2006. Sementara itu untuk rasio APM P/L SLTP/MT/MT menurun dari 111,4 pada tahun 1992 menjadi 99,3 pada tahun 2006. Angka ini berada di bawah angka nasional (100,0) dan di bawah rata-rata tiap provinsi (101,5). Kesetaraan gender untuk bidang selain pendidikan di Nanggroe Aceh Darussalam ditunjukkan antara lain oleh rasio rata-rata upah per bulan antara perempuan dan laki-laki. Pencapaian Provinsi ini termasuk tertinggi di antara 33 provinsi di tahun 2006 yaitu 84,8, jauh di atas rata-rata provinsi 84,7 maupun angka nasional 74,8. Dengan demikian, keseteraan gender di bidang pendidikan dan kontribusi perempuan dalam pekerjaan upahan di Nanggroe Aceh Darussalam belum berkembang baik. Pencapaian tahun 2006 sekaligus bermakna bahwa Provinsi ini sedang dalam masa pemulihan pasca konflik yang berkepanjangan.

Indikator berikutnya yang mengindikasikan pencapaian tujuan 4 menurunkan angka kematian anak adalah AKB dan AKBA. AKB per 1000 kelahiran hidup tahun 2005 (7,0) masih tergolong cukup baik dibandingkan angka nasional (8,0) maupun angka rata-rata tiap provinsi (8,5). Sementara itu AKBA per 1000 kelahiran hidup tahun 2005 (46,0) juga berada dalam kategori cukup baik dibandingkan angka nasional (40,0) dan angka rata-rata tiap provinsi (40,6). Pencapaian AKBA tahun 2005 ini menyamai pencapaian nasional tahun 2003. Pencapaian tahun 2005 jauh lebih baik dibandingkan tahun 1990.

Kinerja bidang kesehatan yang lain, khususnya terkait pencapaian tujuan 6 memerangi HIV/AIDS, malaria dan penyakit menular lainnya, ditunjukkan antara lain oleh jumlah penderita AIDS dan kejadian malaria. Penderita AIDS hanya satu orang pada tahun 2005, sementara insiden malaria tahun 2005 mencapai 2.170 kejadian.

Prestasi lain yang dicapai Provinsi ini adalah di pencapaian luas lahan kawasan hutan, akses air minum, dan sanitasi sebagai bagian dari upaya mencapai tujuan 7 memastikan kelestarian lingkungan hidup. Luas kawasan hutan di wilayah Provinsi ini cenderung tetap dari tahun 2001 sampai 2005, bahkan dibandingkan dengan penafsiran citra Satelit ETM 7 tahun 2000 juga relatif tetap. Selain itu, rumah Tangga yang memiliki akses terhadap air minum non-perpipaan terlindungi dari tahun ke tahun menunjukkan pengurangan, yaitu mencapai 24,1 persen pada tahun 1994 dan pada tahun 2006 menjadi 41,4 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa selama 16 tahun terjadi pergeseran akses rumah tangga terhadap penggunaan air bersih. Sementara itu akses rumah tangga kepada sanitasi layak juga meningkat tajam dari 25,1 persen di tahun 1992 menjadi 62,7 persen di tahun 2006.

Pekerjaan bagi kaum muda (rentang usia 15-24 tahun) di Nanggroe Aceh Darussalam nampaknya banyak dinikmati oleh kelompok laki-laki dibandingkan oleh kelompok perempuan. Per Februari 2007 terdapat sekitar 52,6 persen pengangguran usia muda kelompok laki-laki, sementara yang perempuan hanya 58,2 persen. Jumlah pengangguran usia muda secara akumulatif per Februari 2007 diperkirakan mencapai 493 ribu jiwa atau sekitar 54,9 persen. Angka kumulatif ini lebih baik dari pencapaian nasional per Februari 2007 yang cuma 57,3 persen.

Baca Juga :