Perkembangan MDGs di Kepulauan Nusa Tenggara

Perkembangan MDGs di Kepulauan Nusa Tenggara

Perkembangan MDGs di Kepulauan Nusa Tenggara

Provinsi Bali merupakan provinsi yang relatif baik dalam pencapaian MDGs dari perspektif nasional, karena indikator MDGs di provinsi ini selalu berada di atas angka nasional terkecuali dalam tiga hal yakni APM SD/MI, Rasio APM P/L SD/MI masing-masing ranking 17 dan 11 dari 33 Provinsi dan Penderita HIV/AIDS terbesar ke lima.

Provinsi Bali Sejak 2002 memiliki APM SD/MI di bawah tingkat rata-rata nasional, adapun besar capaiannya adalah 92,2 persen dan pada tahun 2006 meningkat menjadi 93,3 persen. Berbeda halnya dengan tahun 1992 yang walaupun jumlah persentasenya lebih kecil namun berada di atas angka nasional di mana capaiannya sebesar 91,1 persen.

Provinsi Bali termasuk dalam kategori provinsi yang pencapaian Rasio APM P/L SD/MI pada tahun berada sedikit di bawah pencapaian nasional, yakni sebesar 99,0 persen. Meskipun demikian, berbeda dengan provinsi lainnya yang cenderung menurun pencapaiannya, dalam hal ini provinsi Bali menunjukan perbaikan terus menerus seperti terlihat dalam tabel yakni sebesar 97,7 persen pada tahun 1992 dan sedikit menurun 97,5 persen pada tahun 2002.

Bila di sektor pendidikan pencapaian target kesetaraan gender sudah baik, tidak demikian halnya dengan sektor produktif non pertanian, hal ini dapat dilihat dari rasio P/L rata-rata upah bulanan yang tertera pada februari 2007 sebesar 69,6 persen atau satu peringkat di bawah Nusa Tenggara Barat, rangking ke 4 terburuk. Kesenjangan rata-rata upah bulanan antara perempuan dan laki-laki di Provinsi ini masih cukup lebar.

Penderita penyakit menular HIV/AIDS di Provinsi Bali relatif tinggi, tercatat kasus sebesar 228 kasus atau menduduki rangking kelima pencapaian terparah secara nasional. Kenyataan ini lebih dipengaruhi oleh posisi Provinsi Bali sebagai daerah tujuan pariwisata, karena sebagai daerah terbuka sulit menghindarkan dari pergaulan dengan cara hidup yang membuka ruang bagi penyebaran penyakit HIV/AIDS.

(15) Nusa Tenggara Barat

Provinsi Nusa Tenggara Barat merupakan provinsi yang tingkat ketergantungan sebagian besar penduduknya pada curah hujan sangat tinggi, tidaklah mengherankan bila pada musim kemarau sering dilanda kelaparan. Sebagai daerah pertanian dengan areal pengairan tehnis lebih kecil, dan tingkat penduduk yang padat di Lombok, menyebabkan daerah ini dikenal sebagai daerah miskin baik indikator ekonomi maupun non ekonomis.

Provinsi Nusa Tenggara Barat pada tahun 1993 memiliki jumlah persentase penduduk miskin sebesar19,52 persen atau sekitar 692.400 jiwa (Po) yang kemudian meningkat menjadi 1.145.800 atau 28,01 persen pada tahun 2000. Data ini memperlihatkan bahwa krisis nasional berdampak besar pada Nusa Tenggara Barat karena proses pemulihan di Provinsi ini nampak berjalan lamban, selain tentunya pengaruh iklim panas yang patut diperhitungkan sebagai faktor yang menimbulkan kemarau berkepanjangan. Pada tahun 2006 persentase penduduk miskin di Nusa Tenggara Barat berkisar 23,04 persen yang berarti terjadi penurunan jumlah penduduk miskin sebesar 3 persen selama kurun waktu 6 tahun terakhir.

Dampak kemiskinan dan kondisi iklim menjadi penghambat utama pencapaian target pengurangan kelaparan. Provinsi Nusa Tenggara Barat pada tahun 1989 memiliki jumlah balita kurang gizi atau gizi buruk, sebesar 43,98 persen. Satu decade kemudian yaitu tahun 2000 balita kurang gizi di Nusa Tenggara Barat mencapai 27,25 persen, turun cukup tinggi. Tetapi pada tahun 2006 kembali naik menjadi 33,39 persen. Sedangkan angka nasional balita dengan gizi kurang tahun 2006 sebesar 28,05 persen.

Kinerja Pencapaian Pendidikan Dasar relatif lebih baik, dalam hal ’Wajar 9 tahun’ angka capaiannnya di atas rata-rata nasional, selain peran pemerintah yang besar, tidak dapat dipungkiri peran pendidikan swasta cukup signifikan melalui pendidikan pesantren (madrassah ibtidaiyah dan tsanawiyah) maupun sekolah umum SD/MI dan SLTP/MT. Namun demimikian dalam hal kesetaraan gender di bidang pendidikan Povinsi Nusa Tenggara Barat menghadapi kendala karena pandangan stereo type, perempuan tidak perlu berpendidikan baik toh akhirnya bekerja di rumah. Pengaruhnya, capaian rasio perempuan dibandingkan laki-laki tingkat SLTP/MT di bawah angka nasional dan baru pada tahun 2006 angka rasio APM P/L SLTP/MT di atas 100 persen dan selalu berada di bawah angka nasional. Pada tahun 1992 rasio yang dicapai Nusa Tenggara Barat 98,8 persen dan tahun 2000 turun menjadi 98,5, dan pada tahun 2006 mencapai jumlah yang cukup signifikan yakni 137,5 persen, walau masih di bawah pencapaian nasional.

Sumber : https://obatwasirambeien.id/last-day-on-earth-apk/