Nusa Tenggara Timur

Table of Contents

Nusa Tenggara Timur

Nusa Tenggara Timur

Nusa tenggara Timur merupakan daerah yang alamnya sangat tergantung pada hujan, bahkan dapat dikatakan lebih kritis dari Nusa Tenggara Barat dengan tiadanya bendungan besar di daerah ini. Karena penduduknya sebagian besar petani, maka sulit untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Oleh karena itu pencapaian target pengurangan kemiskinan di daerah ini terasa lamban. Provinsi Nusa Tenggara Timur pada tahun 2006 memiliki persentase penduduk miskin sebesar 27,99 persen, atau sekitar 11,5 persen lebih tinggi dari angka nasional. Persentase tersebut sesungguhnya sudah menurun di bandingkan dengan data tahun 2000 yang 36,29 persen atau sama dengan 1.206.500 jiwa. Sedangkan pada tahun 1993 provinsi ini memiliki jumlah penduduk miskin sekitar 756.400 jiwa atau 21,84 persen. Jadi, dengan membandingkan angka pencapaian tahun 2000 dengan tahun 2006, menunjukkan persentase yang menurun, meskipun masih jauh di atas angka nasional sebesar 27,99 persen.

Dampak dari situasi kemiskinan yang nyata adalah kualitas kesehatan balita yang buruk. Pada tahun 1989 di Nusa Tenggara Timur prevalensi balita dengan berat badan kurang atau kurang gizi mencapai angka 45,41 persen, 13 tahun kemudian angka tersebut menurun menjadi 33,60 persen pada tahun 2000 dan kembali meningkat pada tahun 2006 yakni sebesar 41,07 persen. Sedangkan pencapaian angka nasional sebesar 28,05 persen. Realitas ini merupakan dampak terburuk dari perubahan iklim seperti el nino dengan kemaraunya yang berkepanjangan dan kebijakan nasional yang menyebabkan berkurangnya daya beli masyarakat.

Pencapaian target pendidikan dasar bagi semua dalam MDGs dan Program Wajib Belajar Sembilan Tahun masih menghadapi kendala yang cukup serius di Nusa Tenggara Timur di mana APM SD/MI-nya berada diperingkat kedelapan dan terutama tingkat SLTP/MT APM-nya yang berada di peringkat pertama terburuk secara nasional.

Target pencapaian APM SD/MI di Provinsi Nusa Tenggara Timur pada tahun 2006 sebesar 91,6 persen, angka ini menunjukkan besarnya anak yang bersekolah SD/MI di usia sekolahnya. Arti sebaliknya, terdapat sekitar 8,4 persen yang tidak tertampung di sekolah. Pencapaian tahun 2006 lebih baik dari tahun 2000 (88,9 persen) dan jauh lebih baik dari tahun 1992 yang hanya mencapai 82,3 persen. Sebagai daerah dengan kondisi geografis kepulauan dan dengan tingkat kemiskinan yang masih tinggi baik ekonomi maupun non-ekonomi, maka prestasi ini merupakan pencapaian yang istimewa.

Provinsi Nusa Tenggara Timur merupakan provinsi paling parah nomor satu dalam pencapaian target APM SLTP/MT di mana pada tahun 2006 memiliki APM SLTP/MT sebesar 47,2 persen. Suatu jumlah dengan selisih sebesar 19,3 persen bila dibandingkan dengan angka nasional (66,5 persen). Dibaca sebaliknya maka dengan pencapaian sebesar 47,2 persen pada tahun 2006, hal ini menunjukkan bahwa terdapat anak didik yang tidak melanjutkan sekolah SLTP/MT sebanyak 52,8 persen pada golongan usia belajar 13 sampai 15 tahun. Sebenarnya, pencapaian tahun 2006 tersebut sudah jauh lebih baik bila dibandingkan pencapaian tahun-tahun sebelumnya, yakni sebesar 34,2 persen pada tahun 2000 serta tahun 1992 yang hanya mencapai 20,9 persen.

Selain memiliki persoalan seperti di atas, hampir serupa dengan Provinsi Nusa Tenggara Barat, terdapat fakta tingginya angka kematian anak dan ibu di wilayah provinsi Nusa Tenggara Timur. Banyak anak-anak yang tidak dapat menikmati ulang tahun kelimanya akibat berbagai sebab dan juga ibu-ibu yang beresiko tinggi disaat persalinannya. Dalam kaitan ini AKB Provinsi Nusa Tenggara Timur tahun 2005 mencapai 15 jiwa per 1000 kelahiran hidup. Angka ini jauh lebih baik bila dibandingkan dengan tahun 2003 yang mencapai 59 jiwa. Pada tahun 2005 tersebut, rangking Nusa Tenggara Timur berada di peringkat tiga terburuk secara nasional karena nilai pencapaiannya hampir dua kali rata-rata angka kematian bayi secara nasional.

Dalam hal penurunan target angka kematian anak (AKB dan AKBA), Provinsi Nusa Tenggara Timur sudah dapat menekan AKB degan sangat baik sekalipun masih cukup tinggi dibandingkan angka nasional. Namun dalam hal AKBA masih terasa lamban. Masih tetap sebagai Provinsi terparah ketiga, tahun 2005 Nusa Tenggara Timur memiliki AKBA sebesar 60 jiwa per 1000 kelahiran hidup. Kondisi tersebut jauh lebih baik dibandingkan dengan tahun 2003 yang masih mencapai 73 jiwa. Beberapa penyebab kasus pada situasi di Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur relatif sama, yaitu ditandai oleh persoalan kemiskinan, kelaparan dan iklim yang begitu dominan. Selain itu persoalan pelayanan publik dan struktur sosial merupakan persoalan struktural yang perlu ditangani serius di Provinsi ini.

Pencapaian target pengurangan penyakit menular dan berbahaya di Nusa Tenggara Timur membutuhkan penanganan khusus, selama bertahun tahun belum mampu mengisolasi penyakit malaria. Hingga saat ini provinsi ini selalu ditimpa KLB malaria dengan tingkat kejadian penyakit malaria yang paling tinggi, yakni sebesar 172.770 kasus.

Pencapaian target pengurangan penyakit menular dan berbahaya di Nusa Tenggara Timur membutuhkan penanganan khusus. Selama bertahun tahun daerah ini belum mampu mengisolasi penyakit malaria, terbukti dengan adanya kejadian luar biasa (KLB) malaria yang pada tahun 2005 mencapai 172770 kasus dan merupakan jumlah terbesar di tingkat nasional. Jumlah penderita penyakit HIV/AIDS di Provinsi ini berada peringkat 14 nasional yaitu 20 kasus.

Pencapaian target Sanitasi Layak pada Provinsi Nusa Tenggara Timur tahun 2006 berada pada peringkat 19 terburuk atau di bawah rata-rata nasional dengan angka capaiannya sekitar 68,9 persen. Artinya masih terdapat sejumlah hampir sepertiga penduduk yang hidup dengan sanitasi buruk. Capaian sanitasi layak di Nusa Tenggara Timur mulai mengalami perbaikan pada dekade 1990-an dengan pencapaian sebesar 21,90 persen tahun 1992 berubah menjadi cukup signifikan menjadi 63,20 persen pada tahun 2000.

Sumber : https://obatwasirambeien.id/ultimate-car-driving-simulator-apk/