Menjaring Ponsel Gelap di Ambang Senja Kabinet Kerja

Menjaring Ponsel Gelap di Ambang Senja Kabinet Kerja

Menjaring Ponsel Gelap di Ambang Senja Kabinet Kerja

Penasaran terhadap isu hangat rencana Validasi IMEI Ponsel

, saya hadir di Acara Talk Show & Seminar Nasional IMEI di Kantor Menteri Kominfo, Jumat 2 Agustus 2019 siang. Acara dibuka dengan sambutan Menkominfo, Chief Rudiantara. Kemudian berbicara juga beberapa Dirjen dari Kementerian Kominfo, Kementerian Perindustrian, Bea & Cukai, Perdagangan, ATSI dan YLKI.

Ibarat kendaraan, IMEI adalah nomor mesin dari sebuah ponsel. Bila sebuah ponsel bisa diisi dua SIM Card, maka dua IMEI pula yang dimilikinya. Tekan *#06# lalu “Call”; itulah IMEI ponsel Anda.

Di mobil atau motor, dengan STNK di mana nomor polisi

dan nomor mesin tercantum di dalamnya, maka sah si kendaraan meluncur di jalan raya. Begitu pula prosedur yang diberlakukan operator seluler global saat ini. Ponsel pelanggan berhak mengudara ketika MSISDN (nomer dari operator) dikawinkan dengan IMEI ponsel. Tetapi di Indonesia rada lain. Hanya dengan MSISDN saja, operator sudah bisa mengaktifkan ponsel pelanggannya.

Saat di Telkomsel, seperempat abad yang silam, bersama Rudiantara saya

memang berperan membuat “terobosan” tersebut. Tapi itu adalah cara untuk menaklukkan kartel ponsel. Menyerahkan peredaran ponsel ke mekanisme pasar terbukti berhasil membanting harga ponsel turun drastis menjadi seperlimanya. Sekarang kita berharap IMEI pun menjadi bahagian dari aktivasi, sehingga ketika “on” sistem bisa mendeteksi status dan keberadaannya.

Celakanya, di pasaran banyak beredar gadget ilegal, refurbish, rekondisi, duplikat atau tentengan. Semuanya tidak bayar PPN dan PPh, sehingga negara dirugikan sekitar Rp2,8 T setahun. Ini sudah berlangsung sejak lama. Semua aparat mengerti, media mengabarkan, dan kita pun sadar. Lalu, di mana salahnya? Inilah fenomena pasar kita.

 

Sumber :

https://dunebuggyforsale.org/