Disrupsi (Birokrasi) Pendidikan

Disrupsi (Birokrasi) Pendidikan

Disrupsi (Birokrasi) Pendidikan

Menarik membaca berbagai pandangan terkait akan hadirnya perubahan kurikulum

dalam tubuh pendidikan nasional kita. Perubahan pada umumnya akan menghasilkan dua reaksi. Setuju atau menolak. Begitu juga kiranya instruksi “reformasi besar-besaran” pada kurikulum pendidikan yang dikeluarkan oleh Presiden Jokowi. Intruksi ini ditujukan kepada Nadiem Makariem, menteri milenial yang saat ini menahkodai jalannya Pendidikan dan Kebudayaan. Termasuk Pendidikan Tinggi (Dikti) yang lima tahun lalu sempat berbeda induk. Sebuah institusi yang sangat besar dari kaca mata ukuran dan kompleksitasnya.

Setelah instruki itu dikeluarkan, dua reaksi otomatis bermunculan. Apalagi jika dilihat dari lini masa para netizen. Di antara mereka yang setuju beralasan karena memang kurikulum selama ini tidak menunjukkan indikator keberhasilan. Bahkan sepak terjang kurikulum yang dinamakan K-13 atau Kurtilas sempat terbit dalam edisi revisi. Padahal direvisi itu juga bagian dari diganti.

Sementara itu, yang menolak karena merasa perjalanan kurikulum yang ada belum

dijalankan secara utuh. Belum waktunya untuk diganti. Mazhab ini memandang banyak sisi positif yang ada dalam K-13. Satu di antara yang sering dikumandangkan adalah dalam hal penguatan karakter. Pada saat yang sama anak didik SD tetap membawa ransel besar yang isinya tumpukan buku.

Namun, ada satu reaksi yang selalu luput dari amatan, yaitu masa bodoh. Reaksi ini muncul biasanya akibat dari hilangnya rasa optimis sekaligus sebagai bentuk unjuk rasa dari sikap apatismenya. Selain itu, masa bodoh juga terlahir dari dorongan lingkungan yang kelak lambat laun menjadi kebiasaan. Disadari atau tidak, inilah jebakan birokrasi selama ini. Sudah mirip “jebakan Batman”, maju kena, mundur kena. Kita secara sadar masuk ke perangkap masa bodoh itu.

Sebenarnya, tanpa ada instruksi perubahan kurikulum sekalipun, dunia pendidikan Indonesia

memang harus dibenahi sehubungan disrupsi di berbagai hal semakin kentara. Keinginan Jokowi bahwa harus tercipta perubahan mahabesar di dunia pendidikan tersebut juga dapat diterjemahkan dengan menunjuk bos Go-jek dalam Kabinet Indonesia Maju 2019-2024 itu.

Nadiem Makarim telah cukup dikenal. Tidak hanya mampu membawa perusahaannya meraih gelar decacorn. Tetapi orang awam mengenalnya sebagai pemimpin yang mampu melakukan perubahan pola transportasi ojek melalui pemanfaatan teknologi. Dia masuk ke dalam kategori disruptor, bukan follower.

 

Sumber :

https://silviayohana.student.telkomuniversity.ac.id/music-racer/