Memandang Keluar

Table of Contents

Memandang Keluar

Memandang Keluar
Memandang Keluar

Tidak mudah mengarahkan pandangan ke luar, kalau orang terpaksa melewati hari-harinya dalam batasan empat tembok selama puluhan tahun. Malah seseorang akan cenderung memusatkan pandangan pada kepentingannya sendiri dan kasihan pada dirinya sendiri.

Cerita tentang Dr. John D. Rockfeller menjadi dorongan bagi saya, untuk selalu memikirkan kepentingan orang lain. Pada usia 34 tahun orang termashyur ini sudah dapat menghasilkan satu juta dolar pertamanya.

Pada usia 43 tahun, dia mengendalikan perusahaan terbesar di dunia. Dan pada usia 53 tahun, dia menjadi orang terkaya di dunia. Namun dia mengeluh, bahwa yang ia inginkan adalah “menjadi orang yang dikasihi.” Para ahli ilmu jiwa berkata, bahwa tanpa kasih, seseorang akan kehilangan gairah hidupnya.
Selama hidupnya Rockfeller terlalu keras bekerja. Karena itu dia kehilangan kesehatan dan kesegaran. Dia menderita penyakit yang menyebabkan semua rambut, alis dan bulu matanya rontok. Pencernaannya sangat lemah, dan karena itu “orang yang dapat membeli apapun di dunia ini”, hanya boleh makan biskuit dan minum susu. Dan pada suatu waktu, ia terpaksa menggaji beberapa pengawal pribadi untuk menjaga keselamatannya siang dan malam, terhadap orang-orang yang jatuh miskin karena digilas usaha dagangnya.

Saat usianya 53 tahun orang-orang memperkirakan, bahwa dia tidak akan dapat hidup satu tahun lagi. Surat-surat kabar sudah mempersiapkan artikel kematiannya untuk diterbitkan. Pada malam-malam yang sepi, Rockfeller sering merenungkan kematian. Pada saat itulah dia benar-benar menyadari kenyataan, bahwa tidak satu senpun dari kekayaan duniawinya dapat dia bawa ke dunia lain itu. Karena itu dia putuskan tidak akan menimbun harta lagi, dan akan menggunakan kekayaannya untuk kebaikan sesama. Dengan tekad itulah dia mendirikan Yayasan Rockfeller yang sangat masyhur itu. Beberapa universitas, rumah sakit, badan agama, dan usaha sosial untuk kesejahteraan masyarakat terbelakang dan miskin, telah memperoleh jutaan dolar bantuan dari lembaga ini.

Setelah Rockfeller mengarahkan pandangannya ke luar – terhadap kebutuhan orang lain – terjadilah mujizat pada dirinya. Dia bisa tidur nyenyak, makan normal, dan menikmati hidupnya. Maka daripada menutup hidup pada usia 53 tahun, Rockfeller memulai hidup baru pada usia 53 tahun dan mengakhirinya pada usia 89 tahun.

Setelah melalui hidup yang keras, sakit dan kepahitan selama 50 tahun lebih, Rockfeller menemukan rahasia kebahagiaan hidup. Memang sangat menyedihkan, bahwa tidak sejak semula dia mendengarkan peringatan Allah dalam Firman tentang harta dunia.

Marilah kita membuka hati kita untuk melihat keluar, begitu banyak orang yang membutuhkan uluran tangan kita, begitu banyak orang yang tidak seberuntung kita, jangan hanya terpaku bagaimana mengumpul harta semata-mata. Karena ketika kita menyadarinya kita akan menyesal nanti, dan roda kehidupan tidak akan kembali ke masa yang silam.

Hidup hanya sekali, nikmatilah hidup ini dengan memperkaya harta batiniah kita, mari kita berlomba-lomba mengumpulkan harta di surga karena ngengat dan karat tidak akan merusakkannya. amin

“Akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka. Tetapi engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan.” (1 Timotius 6 : 10-11)

Sumber : https://blog-fiesta.com/