Pubertas Dini

Table of Contents

Pubertas Dini

Pubertas adalah jaman dikala seorang anak mengalami perubahan fisik, psikis, dan pematangan kegunaan seksual. Masa pubertas dalam kehidupan kami kebanyakan diawali sementara berumur delapan sampai sepuluh th. dan berakhir lebih kurang di umur 15 sampai 16 tahun. Pada jaman ini sesungguhnya perkembangan dan perkembangan berlangsung dengan cepat. Pada wanita pubertas ditandai dengan menstruasi pertama (menarche), sedangkan terhadap laki-laki ditandai dengan mimpi basah. Kini, dikenal terdapatnya pubertas dini terhadap remaja. Penyebab pubertas dini ialah bahwa bahan kimia DDT sendiri, DDE, membawa pengaruh yang serupa dengan hormon estrogen. Hormon ini diketahui sangat berperan dalam sesuaikan perkembangan seks wanita.

Seorang anak akan memperlihatkan gejala awal dari pubertas, seperti suara yang jadi berubah, tumbuhnya rambut-rambut terhadap daerah tertentu dan payudara membesar untuk seorang gadis. Untuk seorang anak perempuan, gejala itu kebanyakan nampak terhadap umur 10 th. ke atas dan terhadap anak laki-laki, kebanyakan lebih lambat, yaitu terhadap umur 11 th. ke atas. Perubahan fisik yang berlangsung terhadap jaman pubertas bertanggung-jawab atas munculnya dorongan seks. Pemuasan dorongan seks tetap dipersulit dengan banyaknya tabu sosial, sekaligus termasuk kekurangan pengetahuan yang benar mengenai seksualitas.

Apakah Pubertas Dini Bermasalah?
Menurut sebuah penelitian baru-baru ini, anak remaja yang lebih cepat dewasa atau matang sebelum akan waktunya, ternyata lebih beresiko untuk terlibat dalam perkelahian bahkan menjadi korban kekerasan, seperti ditusuk atau ditembak. Menurut Dr. Alex Piquero, seorang ahli kriminologi dari Universitas Florida yang sekaligus menjabat sebagai ketua proyek penelitian itu, proses menuju pubertas (kedewasaan) yang sangat dini membuat seorang anak terdorong untuk berhimpun dalam lingkungan sosial atau pergaulan yang belum layak dia masuki.
Dia menambahkan, anak-anak yang sangat cepat dewasa itu kebanyakan akan lebih cepat studi bersosialisasi secara akrab dengan lawan jenisnya, dan juga lebih menentukan berkawan dengan remaja yang lebih tua, lebih besar, dan juga lebih kuat dibandingkan dengan anak-anak lain yang tidak mengalami gejala kelainan fisik tersebut.
Akibatnya, anak-anak yang lebih cepat “puber” itu condong beresiko mengalami depresi, gangguan perilaku, dan juga bervariasi kelainan psikologis lainnya, termasuk dampak mengalami kekerasan fisik dari orang-orang yang lebih tua dan lebih kuat darinya.
Hasil penelitian itu disita berdasarkan pengamatan terhadap 7000 sampel anak-anak berusia 11 sampai 15 tahun, yang disita dari 132 sekolah di seluruh wilayah Amerika Serikat. Dr. Picero dibantu rekannya, Dr. Dana L. Haynie dari Universitas Negeri Ohio, pada mulanya mengidentifikasi para murid yang udah mengalami pubertas di th. 1995 kemudian jadi menyelidiki pengalaman kekerasan fisik yang mereka alami terhadap tahun-tahun berikutnya.
Secara garis besar, remaja yang lebih cepat dewasa – yang bisa diidentifikasi dari fisik mereka yang nampak lebih tua dibanding remaja lainnya – ternyata memiliki dampak yang lebih besar untuk terlibat dalam perkelahian fisik, dan juga termasuk dulu ditodong dengan pisau bahkan terancam ditembak dengan pistol, dibanding remaja lain yang lebih normal. Ini kebanyakan berlangsung di kalangan remaja laki-laki.
Namun, perihal serupa justru tidak nampak terhadap anak-anak perempuan yang lebih cepat mengalami pubertas. Menurut hasil penelitian tersebut, justru tak ada satu pun remaja putri yang mengalami kekerasan secara fisik seperti halnya yang dialami oleh remaja laki-laki. Selain perilaku mereka jauh berbeda, remaja perempuan yang lebih cepat “puber” justru memiliki jauh lebih banyak kawan yang lebih dewasa dibandingkan dengan remaja laki-laki.
Tapi bagaimanapun juga, bersosialisasi dengan remaja yang lebih tua secara psikologis membawa pengaruh yang sama-sama berat baik bagi remaja perempuan atau remaja laki-laki, gara-gara mereka sesungguhnya belum cukup matang secara emosional untuk menanggulangi masalah yang dihadapi. Meskipun anak berusia 13 th. udah berani bergaul dengan anak berusia 16 tahun, tapi bukan bermakna mereka termasuk memiliki tingkat analisis yang serupa dengan anak-anak berusia 16 tahun.
Namun tak seluruh anak-anak yang lebih cepat “puber” beresiko mengalami kekerasan fisik. Sebanyak 74% anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga berpendidikan tinggi dan juga lebih akrab dengan orang tuanya, ternyata mengalami lebih sedikit kekerasan fisik dibandingkan remaja yang tidak. Anak-anak kulit putih termasuk condong lebih sedikit menjadi korban kekerasan fisik dibanding ras lainnya di Amerika Serikat.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, Dr. Piquero merekomendasikan terhadap segenap orangtua agar lebih waspada terhadap pengaruh negatif yang bisa saja ditimbulkan dari masalah pubertas dini terhadap anak-anak mereka. Dalam perihal ini, pendampingan orangtua sangat dibutuhkan oleh remaja menuju tahap kedewasaan, dan perihal itu haruslah diawali terhadap sementara mereka jadi mengalami gejala pubertas.
Para remaja berikut haruslah dibekali pengetahuan yang cukup, agar mereka sadar akan konsekuensi dari pergaulan dengan orang-orang yang lebih tua dibanding usianya, atau sementara berinteraksi dengan lawan model mereka. Dalam perihal ini, para orangtua sebaiknya menyiapkan bekal paling baik bagi anak-anak mereka untuk hadapi perihal seperti itu, ketimbang berusaha menjauhi mereka dari lingkungan pergaulannya.

Penyebab Pubertas Dini

Jumlah anak yang mengalami pubertas dini dicermati dari perkembangan payudara dan bulu pubis, menurut laporan penulis The Falling Age of Puberty Sandra Steingraber, Ph.D., terus meningkat dalam sebagian th. terakhir.

Pada 1970, biasanya umur anak sementara memperoleh menstruasi pertama adalah 11,5. Tiga puluh th. kemudian, turun menjadi 10. Perkembangan payudara bahkan udah jadi satu atau dua th. sebelum akan menstruasi pertama.

Apakah pubertas di umur sedini ini normal? Menurut Steingraber, penelitian-penelitian yang udah dikerjakan memperlihatkan bahwa jadi awal perempuan memasuki jaman pubertas, dampak mereka mengalami gangguan kesehatan fisik dan mental termasuk jadi besar. Sedang sebagain besar perempuan yang mengalami jaman puber yang ‘normal’ tidak mengalami pengaruh negatif tersebut. Pubertas dini disebabkan oleh gabungan bermacam faktor. Menurut penulis ada sebagian segi berikut di bawah ini bisa membuat pubertas dini.

Obesitas
Obesitas mengganggu proses endokrin (kelenjar yang mengeluarkan hormon-hormon untuk sesuaikan bermacam kegunaan tubuh) agar anak perempuan yang montok condong meraih pubertas lebih awal. Di sisi lain, obesitas termasuk bisa dipicu oleh pubertas dini. Hal ini, terang Steingraber, membuat fenomena ini jadi kompleks. Konsumsi diet seimbang. Diet sebanding yang kaya whole grain, buah dan juga sayuran segar dan produk hewan dalam jumlah sedang menunjang melawan obesitas dan mempertahankan keseimbangan hormon.

Zat Kimia
Terpapar zat kimia pengganggu endokrin secara tertib termasuk turut berperan dalam mempercepat pubertas terhadap anak perempuan. Zat kimia ini seringkali berasal dari kosmetik, sampo, produk pembersih, botol bayi dan mainan anak.
Zat kimia yang terkandung terhadap sebagian besar produk kastemer sementara ini ternyata bisa pengaruhi jaman pubertas terhadap gadis remaja, baik itu menjadi mundur atau sebaliknya lebih cepat puber. Selain itu, zat-zat beresiko yang banyak dipakai untuk bermacam produk kastemer sementara ini termasuk menambah risiko mengalami masalah kesehatan di kemudian hari.
Tim peneliti dari Amerika Serikat mengklasifikasikan tiga bahan kimia yang sering dipakai terhadap produk konsumen, pada lain phenol, phthalate, dan phyteostrogen. Ketiga zat ini dikenal sebagai endocrine disruptor atau pengacau endokrin, gara-gara pengaruhi proses hormon atau endokrin dalam tubuh.
Ketiga bahan kimia itu bisa dideteksi dari sampel urine dari para partisipan yang melibatkan 1.151 gadis berusia enam sampai 8 th. yang tinggal di New York City, Cincinnati dan California.
Zat beresiko ini banyak ditemukan terhadap sejumlah produk yang akrab dengan kehidupan wanita sehari-hari, seperti kosmetik, parfum, pemoles kuku, lotion, dan sampo. Beberapa di antaranya termasuk dipakai sebagai produk pelapis atau pelindung untuk suplemen dan obat-obatan.
Peneliti menemukan kadar phthalate dan phytoestrogen yang tinggi terkait erat dengan perkembangan payudara lebih cepat dan bulu kemaluan lebih dini. Zat ini ditemukan terhadap produk-produk pribadi seperti lotion dan sampo. Namun, phenol, phystoestrogen, dan phthalate yang digunakan untuk produk bangunan dan tabung plastik dihubung-hubungkan dengan tertundanya jaman puberitas.
“Kami yakin ada periode tertentu berlangsung kerawanan dalam perkembangan kelenjar susu, dan keterpaparan terhadap zat-zat ini bisa pengaruhi risiko kanker payudara sementara dewasa,” kata Mary Wolff, profesor bidang pengobatan preventif dan sains onkologi di Mount Sinai School of Medicine dalam laporan studinya yang dimuat dalam Environmental Health Perspectives.

Kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah
Kedua segi ini, menurut Steingraber, merubah kegunaan endokrin agar menambah risiko pubertas dini. Selain itu, paparan zat kimia dari ibu hamil secara segera bisa mengganggu perkembangan anak, dalam sebagian masalah membuat kelahiran prematur dan berat lahir rendah.

Tekanan psikososial
Tekanan, termasuk ketidakhadiran bapak dalam keluarga dan disfungsi keluarga, termasuk mengganggu proses endokrin, tidak benar satu segi pemicu pubertas dini. Akan tapi mekanisme di belakang tekanan psikososial ini tetap belum jelas.

Susu Formula

Menyusui nampak menghambat pubertas awal dengan dua cara: menyumbangkan lebih sedikit kalori dibandingkan susu formula dan tawarkan hormon-hormon dan segi perkembangan lain yang memelihara dari pubertas awal. Akan tetapi, papar Steingraber, tetap dibutuhkan studi kelanjutan untuk mengklarifikasi peran menyusui dalam perkembangan pubertas.

Jadi menyusui merupakan cara yang baik antisipasi kelak putra-putri terhindar pubertas dini. Semakin lama Anda menyusui, jadi sedikit bayi terpapar dengan fitoestrogen dan xenoestrogen. Kedua komponen ini terkandung dalam susu formula kedelai dan produk susu nonorganik. Selain itu, bayi termasuk terhindar dari komponen phthalates dan bisphenol A yang terkandung dalam botol bayi.

Kurang Aktivitas Fisik
Postur kurus dan olahraga nampak menghambat pubertas dini. Karena itu, terang Steingraber, anak mesti diajak berolahraga sejak dini. Dorong anak berolahraga teratur. Olahraga tertib mengurangi risiko pubertas dengan sebagian cara. Pertama, kegiatan fisik mengurangi bisa saja obesitas. Kedua, olahraga menunjang mempertahankan keseimbangan hormon dengan cara turunkan kadar estrogen

Paparan Media
Peningkatan sementara di depan televisi atau computer bisa membuat obesitas dan kuranynya kegiatan fisik. Kedua segi ini secara segera akan membuat pubertas dini. Sebagian peneliti menemukan, stimulasi seksual yang diperoleh oleh anak-anak lewat sarana seperti majalah, film, televisi, sampai klip video musik, bisa berpengaruh terhadap munculnya pubertas dini. Menurut ahli, paparan sarana tanpa filter seperti ini bisa membuat terdapatnya rangsangan seksual yang bersinambungan, yang kemudian mendorong tubuh anak-anak untuk memberi tambahan respons sebagai imbal baliknya.

Baca Juga :