Revolusi Mental dan Visi Making Indonesia 4.0 Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Revolusi Mental dan Visi Making Indonesia 4.0 Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Wakil Presiden Jusuf Kala membuka Seminar Revolusi Mental sebagai unsur dari program penguatan kapasitas pemimpin Indonesia dalam rangka mengantisipasi evolusi ke depan dan visi “Making Indonesia 4.0”.

Program tersebut diadakan melalui kolaborasi antara Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi, Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhanas) dan Yayasan Upaya Indonesia Damai (UID).

Program kepemimpinan yang dibuka pada hari ini dengan kuliah yang diserahkan oleh Profesor Peter Senge dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), merupakan mula dari program penambahan kapasitas kepemimpinan dengan pendekatan Systems Thinking dan U-Theory yang dikembangkan oleh dua profesor yakni Peter Senge dan Otto Scharmer.

Peter Senge dikenal sebagai di antara “guru” organisasi pembelajar (Organizational Learning) dengan pendekatan kepemimpinan sistem yang tidak sedikit mengusung konsep systems thinking dan generative conversation.

Bukunya berjudul The Fifth Discipline: the Art and Practice of the Learning Organization sudah dicetak sejumlah 2 juta eksemplar.

“Perubahan yang mendalam guna mengakselerasi peradaban dalam menanggulangi isu perumahan yang dihadapi masyarakat ketika ini membutuhkan pemimpin berbasis sistem, seorang pemimpin yang bisa mengkatalisasi kepemimpinan kolektif.” Kata Profesor Peter Senge.

Program penguatan kapasitas pemimpin Indonesia di tingkat pemerintah pusat dan wilayah dirasakan penting menilik perubahan dunia dan transformasi teknologi yang terjadi dengan pesat serta kendala dalam menjangkau pembangunan yang berkelanjutan.

Dampak dari perubahan-perubahan tersebut sarat dengan ketidakpastian dan dominan luas sebab lintas sektor, lintas isu, lintas kumpulan dan lintas daerah.

Untuk itu, dibutuhkan pemimpin yang tidak melulu responsif terhadap perubahan, tetapi pun gesit dalam mengantisipasi evolusi dengan mempersiapkan lembaga dan semua pihak berhubungan untuk menghadapi evolusi secara kolektif.

Hal tersebut membutuhkan revolusi mental yang sering disebut-sebut oleh Presiden Joko Widodo sebab memerlukan gaya kepemimpinan berbasis sistem, tidak lagi kepemimpinan yang “silo”.

“Revolusi mental bakal terus dijalankan untuk mengolah mindset negatif serta ketakutan terhadap revolusi industri 4.0,” tegas Wakil Presiden Jusuf Kala pada saat pendahuluan Seminar.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman pun menyampaikan pesannya untuk seluruh peserta seminar, ia mengatakan, “Sekarang ialah saatnya anda mulai mengolah mindset pemimpin anda dan bekerja secara teamwork, tidak jalan sendiri-sendiri.”

Dalam menghadapi era revolusi industri 4.0 dan strategi Making Indonesia 4.0 yang dikenalkan Presiden pada bulan April lalu, dibutuhkan pemimpin Indonesia yang mengetahui data, teknologi dan manusia, serta pendekatan yang kolektif dan kolaboratif.

Mohamad Nasir, Menteri Riset dan edukasi Tinggi, menegaskan, “Menyediakan sumber daya insan yang unggul dan membuat inovasi ialah hal terpenting dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0. Mutu edukasi tinggi pun harus ditingkatkan.”

Program penambahan kapasitas kepemimpinan ini diinginkan dapat ditindaklanjuti dengan sejumlah pembelajaran, diskusi, dan pertemuan berhubungan Metodologi Systems Thinking dan U-Theory, dan diterapkan di setiap organisasi cocok konteks Indonesia maupun konteks isu prioritas dan daerah.

Metode pelatihan yang dilakukan bukan sebatas pelatihan biasa, tetapi diinginkan dapat menghasilkan suatu evolusi mind-set dan transformasi di tingkat individu, organisasi, maupun sistem secara luas.

“Revolusi mental untuk menyusun karakter kepemimpinan yang powerful tidak hanya diserahkan dengan mengajarkan sifat-sifat mental yang baik, tetapi pun dengan menanam diri pemimpin dalam posisi bisa mendengar, merasakan, membuka pemikiran dan bisa mendorong aksi kolektif yang lebih bermakna,” ucap Agus Widjojo, Ketua Lemhanas.

“Metode pembelajaran sangat luwes sehingga dapat diterapkan pada sektor atau konsentrasi isu apapun sebab substansi pembelajaran dalam program ini ialah mengajak peserta untuk beranggapan terbuka, muncul utuh dan sadar sarat dalam setiap pekerjaan yang dilakukan, dan sebagai pemimpin mesti rajin sensing atau blusukan sampai-sampai peka terhadap isu ril di lapangan,” sambung Mari Elka Pangestu, Ketua Yayasan Upaya Indonesia Damai.

http://magmetall.ru/go.htm?href=https://www.pelajaran.co.id