Membela Hak Orang Lain

Table of Contents

Membela Hak Orang Lain

Suatu hari Abu Jahal belanja lebih dari satu ekor unta dari seorang laki-laki kabilah Khais’am. Ia berjanji akan membayarnya sesuai bersama batas selagi yang telah disepakati. Namun, saat batas selagi pembayaran berakhir, Abu Jahal tidak juga membayar utang-utangnya.

Sang pedagang tidak kehabisan akal. Ia pergi ke Masjidil Haram untuk menemui petinggi-petinggi Quraisy di sana. Harapannya hanya satu, ada seseorang di antara mereka yang bersedia membantunya untuk menagih pinjaman kepada Abu Jahal. Ia percaya Abu Jahal akan mendengar nasihat dari para petinggi Quraisy tersebut.

Ketika ia memandang para petinggi Quraisy sedang duduk-duduk dan saling bercengkerama di depan Masjidil Haram, tanpa membuang selagi ia segera mendekati mereka. Kemudian ia tumpahkan permasalahan yang dihadapinya bersama harapan para petinggi Quraisy tersebut bersedia membantunya.

Memang orang-orang Quraisy itu mendengarkan curahan hati sang pedagang bersama saksama, tetapi bukannya berkhayal cara menunjang sang pedagang, mereka tambah memandang keadaan ini sebagai kesempatan emas untuk ‘mengerjai’ Rasulullah saw. Mereka punya niat mempertemukan Abu Jahal bersama Rasulullah saw agar Abu Jahal leluasa mempermalukan beliau di depan seluruh orang.

Akhirnya, mereka mengusulkan inspirasi kepada sang pedagang “Adukanlah permasalahan ini kepada Muhammad. Hanya dia yang sanggup membawa dampak Abu Jahal menunaikan kewajibannya”, usul mereka sambil terkekeh-kekeh.

Tanpa pikir panjang, pedagang itu sangat menemui Rasulullah saw. Ia pun mengadukan permasalahannya, “Wahai hamba Allah, Abu Jahal berbuat sewenang-wenang kepadaku. la tidak berkenan membayar harga unta yang dibelinya. Padahal, aku orang asing yang sedang lakukan perjalanan jauh. Tadi aku meminta orang-orang di sana untuk membantuku. Dan mereka menyuruhku untuk mampir kepadamu. Tolonglah aku kali ini! Semoga Tuhan merahmatimu!” pinta sang pedagang.

Rasulullah saw berdiri dan mengajak pedagang itu ke tempat tinggal Abu Jahal. Keberangkatan mereka menuju tempat tinggal Abu Jahal diketahui oleh orang-orang Quraisy di Masjidil Haram dan mereka berpikir bahwa strategi mereka akan berhasil. Mereka pun mengutus seseorang untuk ikuti Rasulullah saw dan melaporkan segala suatu hal yang terjadi nanti.

Setibanya di kediaman Abu Jahal, Rasulullah saw. mengetuk pintu rumahnya.

“Siapa itu?” tanya Abu Jahal dari di dalam tempat tinggal saat mendengar pintunya diketuk.

“Muhammad!” jawab Rasulullah, “keluarlah!” seru beliau kepada Abu Jahal.

Abu Jahal membuka pintu rumahnya bersama tergesa-gesa. Melihat Rasulullah saw telah berdiri di depan pintunya, tiba-tiba wajahnya berubah pucat pasi. Ia nampak sangat ketakutan.

“Berikanlah hak orang ini kepadanya!” perintah Rasulullah bersama nada tegas.

Dengan gelagapan, Abu Jahal menjawab, “Ba.. baiklah. Akan kulunasi utangku sekarang!” Abu Jahal melesat masuk ke di dalam rumah, selanjutnya nampak bersama membawa duit sejumlah utangnya.

Urusan pinjaman selesai. Rasulullah saw berbicara kepada pedagang itu, “Gunakanlah hakmu sesukamu!” Kemudian beliau pergi.

Tentu saja perihal ini sangat mengasyikkan sang pedagang. Ia berlari menuju Masjidil Haram untuk berterima kasih atas panduan yang diberikan para petinggi Ouraisy yang musyrik itu. Ia berbicara kepada mereka, “Semoga Tuhan membalas Muhammad bersama kebaikan. Ia sangat telah menolongku beroleh hakku!”

Mendengar berita itu, para petinggi Quraisy terasa keheranan dan tidak percaya. Benarkah Abu Jahal telah membayar utangnya? Rasanya mustahil terkecuali Abu Jahal menuruti kemauan kemenakannya tersebut. Namun, mereka masih meminta utusan yang mereka kirim membawa berita yang tidak sama dari pedagang itu.

Tanpa tunggu lama, sang utusan datang. Ia melaporkan bahwa Abu Jahal segera membayarkan utangnya saat Muhammad memintanya. Rasa kaget dan gentar merayap ke di dalam dada mereka. Tidak terbayang oleh mereka bahwa seorang Abu Jahal yang kuat kedudukannya dan juga sangat menentang Muhammad bersama mudahnya tunduk terhadap perintah beliau.

Ketika Abu Jahal mampir bersama kepala tertunduk, mereka segera menyerangnya bersama cemoohan, “Celakalah engkau! Demi Tuhan, kita tidak pernah memandang seseorang lakukan apa yang telah kaulakukan kepada Muhammad tadi!”

Abu Jahal membalas bersama makian, “Kalianlah yang celaka! Demi Tuhan, saat kudengar ketukan dan menyadari bahwa Muhammad yang datang, tiba-tiba saja aku terasa takut. Aku pun keluar. Aku memandang bersama mata kepalaku sendiri ada seekor unta yang sangat besar berdiri pas di mukaku. Hewan itu membuka mulutnya yang sangat lebar sambil menunjukkan gigi taringnya yang tajam-tajam seolah-olah hendak menerkamku. Demi Tuhan, terkecuali aku menampik perintahnya, unta itu tentu telah memangsaku!”

Sumber : tokoh.co.id/

baca juga :