Tantangan Berat Pengembangan Obat Nasional

Tantangan Berat Pengembangan Obat Nasional

Tantangan Berat Pengembangan Obat Nasional
Tantangan Berat Pengembangan Obat Nasional

 

BANDUNG – Biaya kesehatan di Indonesia masih sangat kecil jika dibandingkan

denganĀ  negara Asean. Thailand , biaya kesehatan memberikan andil sebesar 4,1% pada GDP, sementara Indonesia hanya 2,7%.

Disisi lain pengembangan obat nasional masih terkendala dengan ketersediaan bahan baku, dimana sebagian besar harus impor. Tim Riset & Development Biofarma Neni Nuraini mengatakan ketergantungan bahan baku ini membuat pengembangan obat nasional tersandera.

“90-95 persen bahan baku obat itu dari impor, jadi sangat berat mengembangkan

industri farmasi jika ketergantungan terhadap bahan baku impor masih dominan,” ujarnya.

Padahal diperkirakan pasar obat dan vaksin nasional dapat mencapai triliunan rupiah. Tahun 2014 saja, pasar farmasi mencapai Rp58 triliun. Diperkirakan pasar farmasi akan tembus hingga Rp100 triliun tahun 2020 mendatang.

Namun menurutnya, pengembangan farmasi akan lebih banyak berkembang

untuk bidang lifescience. Hal itu karena tren penyebab kematian lebih banyak pada penyakit non infeksi. Di Indonesia penyebab kematian terbesar adalah stroke (21%). Lalu disusul jantung (9%) di tempat kedua dan ketiga adalah diabetes (7%).

“Nah , Biofarma akan lebih mengarahkan riset ke life science. Kami saat ini sedang membuat penelitian untuk pengobatan kanker,” tuturnya. Jo

 

Sumber :

http://softwarelivre.org/ojelhtc88/blog/examples-of-power-of-attorney-various-right-purposes