Lagu Merdu Seorang Guru

Table of Contents

Lagu Merdu Seorang Guru

Biarkan saja kokok ayam jantan tak henti menyongsong pagi hari, mereka berkokok saling bersautan berasal dari pojok desa satu bersama dengan lainnya. Mereka begitu tak hirau bersama dengan datangnya hari yang akan dijalani oleh kehidupan manusia babak demi babak, menurut kodrat yang sudah digariskan oleh Sang Pencipta.

Lagu Merdu Seorang Guru

Pagi itu bumi Desa Kembang Arum seakan tidak ada menyisakan warganya yang ulang merapatkan selimutnya, meski di sedang musim kemarau udara begitu dinginnya. Kabut tidak tipis tetap enggan menatap sang mentari. Sementara itu semua celoteh burungpun tak berkenan pikirkan bersama dengan malasnya embun yang menyelimuti mereka. Sementara semua penduduk desa, yang kebanyakan petani gurem terasa bersiap mencari secercah penghidupan, bersama dengan menyandarkan terhadap palawija, lantaran musim kemarau tetap menerpa mereka. Di sedang penghidupan penduduk yang separuh nafas itulah, Nur Hadi mengabdikan diri sebagai Pak Guru. Demikian predikat yang diberikan penduduk desa kepadanya.

Nur Hadi bukan hanya guru di SD N III Kembang Arum, namun dia juga sebagai guru bertani, bergaul, pengentasan terhadap ketertinggalan, kecocokan rumah tangga dan seabreg nilai lainnya yang dibutuhkan masyarakatnya. Jubah Hitam sementara dia kenakan diwisuda menjadi S.Pd. ternyata menyimpan seribu beban. Namun bagi Nur Hadi beban itu, hanyalah sebuah nyanyian merdu seorang pendidik yang ditekuni lahir batin.

Matahari sudah tidak malas ulang dan kini terasa bangkit berasal dari cakrawala timur, jalan desa sudah dipenuhi sibuknya petani peranan mencari nafkah. Debu jalan desapun tak berkenan kalah dalam bersuka ria, beterbangan bersama dengan angin kemarau yang dingin dan kering.

Dengan sepeda motor bututnya Nur Hadi terasa bersiap menuju sekolahnya peranan menyongsong anak-anak kesayangannya untuk beroleh setetes demi setetes ilmu. Namun kadang kala pula dia kerap menjumpai penduduk desa yang sengaja bertandang di sekolahnya hanyalah minta setetes masukan peranan merampungkan semua persoalan yang membelitnya. Dalam perihal ini jadilah Nur Hadi sebagai konsultan rumah tangga, kesehatan, usaha yang tanpa menarik jasa serupiahpun.

Angin kemarau melambaikan semua rerimbunan daun di lingkungan sekolah, menimbulkan udara sejuk sekaligus keteduhan hati. Nur Hadi tetap membimbing anak kelas VI untuk menata kelas, karena senin lusa akan dilangsungkan ujian sekolah. Pandangan matanya kini terpusat terhadap halaman sekolah, sementara seorang wanita tua terjadi mendekatinya bersama dengan tergopoh-gopoh. Rupanya pagi ini giliran seorang penduduk desa yang punya niat minta tolong kepada Pak Guru Nur Hadi.

“Oh rupanya engkau Bi, silahkan duduk”

“Aku harus bagaimana?, saya harus berbicara apa?”

“Sabarlah Bi, duduklah bersama dengan tenang, katakana apa masalahnya, Jangan emosi dulu”

“Itu si Amran, yang sekarang tak berkenan sekolah lagi, sudah tiga malam ini dia baru pulang. Lagian pulang dalam keadaan mabuk. Bagaimana ini Pak Guru ?”.

“Ah anak muda sekarang memang seperti itu, Bi. Jangan Bibi banyak marah bersama dengan anak sekeras itu. Turuti saja kemauannya dulu. Setelah dia agak lapang hatinya barulah Bibi nasehati dia”

“Tolonglah Pak Guru, sudah tidak tidak cukup ulang saya ngomong sama dia. Rasanya sampai kaku lidahku”

“Ah Bibi ini tersedia tersedia saja. Kalau Bibi tidak berkenan kasih nasehat. Lantas siapa lagi?”

“Iulah masalahnya, Pak Guru !. Amran kan pernah sekolah sini. Dulu kan Pak Hadi yang paling dekat denganya. Maka tolonglah Bibi ini. Nasehati si Amran itu !”

“Baiklah jikalau begitu, Bi !. Tunggulah sebagian hari. Nantikan dia ketemu saya di kesibukan karang taruna. Aku akan nasehati dia”

“Ah trimakasih sebelumya, siapa ulang jikalau tidak sama kau Pag Guru, menguntungkan desa ini memiliki guru seperti kamu. Maka carilah gadis desa sini agar kau betah tinggal di sini. Jadilah penduduk sini, kau akan terasa damai, Jangan cari gadis kota !. Mereka pintar dan cantik namun bahagia berani sama suami”

“Ah Bibi tersedia tersedia saja. Trimakasih nasehatnya ya Bi”

“Aku pamit dulu, gampang lain sementara kami sambung lagi”

Nur Hadipun menjadi geli hatinya, berkenaan peran dia di sedang penduduk desa ini yang tetap lugu dan pasrah. Jauh tidak serupa bersama dengan Jogja area kelahirnya, yang jauh di sebrang lauan berasal dari area dia mengajar kini. Beruntung pula bagi Nur Hadi yang memiliki perilaku ramah, bahagia mendukung dan supel bergaul. Maka meski kehadiran dia di Jambi belum sebagian lama, namun hamper semua warga di Kecamatan Hidup Baru Kota Jambi sudah mengenalnya.

Matahari sudah melalui sepenggalah langit, teriknya sudah terasa memenuhi semua halaman sekolah yang simpel itu. Semua siswa kini berteriak kegirangan lantaran mereka hanya setengah hari bersekolah. Nur Hadipun segera menuju perjalan pulang melalui jalan yang terik dan berdebu. Gemerisik daun jagung di tiup angin padang terdengar selama kanan kiri jalan desa. Senyum wanita desapun tak ketinggalan turut mengantar selama perjalanan guru muda terebut, Termasuk Restu Priastuti, putra Pak Priadi yang sudah lama tinggal di pinggiran Kota Jambi. Pak Priadi sendiri befrasal berasal dari Kab. Purbalingga Banyumas.

Untuk gadis Jambi yang satu ini memang Nur Hadi merasakan sesuatu yang lain. Selama dia meraih jaman depanya bersama dengan menjelajah banyak tempat, belum pernah kata hatinya bergejolak seperti ini, berasal dari terasa pandangan pertama sementara mereka bertemu di pertandingan voley antar desa, mereka berdua sudah saling tertarik.

Nur Hadi segera menepikan motornya sementara melihat Restu gadis pujaanya, sedang mendukung ayahnya membersihkan lahan tanaman jagungnya berasal dari rumput dan gulma lainnya. Mereka pada akhirnya sudah terlibat dalam canda ria saling melewatkan tawa, sambil sebentar sebentar berpadu pandang. Kala ini terjadi, merahlah pipi Restu namun tidak kurangi keanggunan gadis desa ini. Nur Hadi segera saja melewatkan sepatunya dan turut mendukung tambatan hatinya dalam memproduksi lahan jagung itu, meski seragam batik PGRI menjadi berlepotan tanah.

“Kok nggak sekalian pulang pernah Kak?”

“Di rumah juga berkenan ngapain hanya bengong. Mendingan melihat di sini, dapat melihat Nawang Wulan di sawah”

“Siapa itu Nawang Wulan, pacarmu berasal dari Jawa ya Kak ?” . Nur Hadi tersenyum gelid an membuat Restu jadi penasaran

“Ayo dong Kak. Siapa Nawang Wulan. Kayaknya di desa ini nggak tersedia yang bernama Nawang Wualan”. Karena desakan yang terus menerus Nur Hadipun pada akhirnya bercerita berkenaan legenda Jawa berkenaan Joko Tarub dan Nawang Wulan. Restupun menjadi berbingar wajahnya dan memerah pipinya dan kini hanya tertunduk lesu sesudah jelas maksud hati sang guru yang tetap perjaka itu/

“Tapi saya bukan bidadari lho kak”

“Ah bagiku kamu adalah bidadariku” jawab Nur Hadi sementara mereka sudah berdua duduk di bawah rerimbunana tanaman jagung yang sudah agak tua.

“Kan tetap banyak bidadari di Jawa kaka?”

“Aku sudah menjadi PNS dan punya niat tinggal di sini. Lagian di Jawa saya tidak memiliki siapa siapa hanya papa dan ibu dan juga adiku. Untuk apa saya ke Jawa lagi”

“Tapi banyak guru negeri yang balik ulang ke Jawa, kamu apa nggak seperti mereka?”

“ Nggak Res, saya dah betah disini, kelak jikalau kami bersama dengan membentuk maghligai, akan saya pindahkan saja papa ibuku ke sini. Orang sini baik baik semua sama saya Res ?”

“Gimana ya kaka, kebanyakan pria memang bahagia menebar janji, saya nggak jelas kak?”

“Aku seorang pendidik Res !. saya memiliki moral. Dan bagi seorang pendidik, yang sudah bertekad menjadi pegawai negeri sudah pasti akan memiliki moralitas untuk membangun lingkunganya. Barangkali kami bsa pulang ke Jawa sesudah saya pensiun. Dan untuk itu sudah berulang saya sampaikan padamu untuk bersama dengan meraih kehidupan kami bersama”. Restu hanya menundukan wajahnya, sama sekali dia tidak dapat menjawab setuju. Maka kini Nur Hadi menjadi berbunga hatinya. Tembang merdu dalam hatinya terus saja ia dendangkan selama perjalanan pulang mengantar Restu ke rumahnya. ruangguru.co.id

Sepanjang perjalanan semua warga desapun melempar senyum dan lambaian tangan. Seakan mereka sudah menobatkan mereka berdua sebagai Abang dan Nona Desa Kembang Arum. Nur Hadi kinipun larut dalam belaian cinta bersama dengan Restu pujaan hatinya.